Iman dan Humanis: Refleksi

Iman dan Humanis: Ketika Iman Kristen Menjadi Kehidupan yang Menghargai Manusia

Rubrik: Teologi dan Pendidikan Kristen

Iman Kristen tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah. Iman Kristen juga mempunyai konsekuensi terhadap cara manusia memandang, memperlakukan, dan menghargai sesamanya.

Karena itu, pembicaraan tentang iman tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Seseorang dapat memiliki pengetahuan agama yang luas, aktif dalam kegiatan gereja, dan memahami banyak ajaran Kristen. Namun, iman juga perlu terlihat dalam cara ia memperlakukan orang lain.

Di sinilah kita dapat membicarakan hubungan antara iman dan humanis.

Apa yang Dimaksud dengan Humanis?

Istilah humanis dalam pembahasan ini digunakan untuk menunjuk pada sikap yang menghargai manusia sebagai pribadi yang memiliki martabat, memperhatikan sesama, dan berusaha menghadirkan kehidupan yang lebih baik dalam relasi dengan orang lain.

Dalam perspektif Kristen, penghargaan terhadap manusia bukan berarti menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu dan mengabaikan Allah.

Sebaliknya, manusia dihargai karena manusia adalah ciptaan Allah.

Kejadian 1:26–27 menggambarkan manusia sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dasar teologis ini memberikan alasan penting mengapa manusia harus dihargai.

Dengan demikian, iman Kristen memiliki dasar yang kuat untuk membangun kehidupan yang menghormati martabat manusia.

Iman Kristen dan Martabat Manusia

Manusia memiliki nilai bukan terutama karena status sosial, pendidikan, pekerjaan, kekayaan, atau kemampuan yang dimilikinya.

Nilai manusia berakar pada keberadaannya sebagai ciptaan Allah.

Pandangan ini mempunyai konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari.

Jika setiap manusia memiliki martabat sebagai ciptaan Allah, maka seseorang tidak seharusnya memperlakukan sesamanya hanya berdasarkan manfaat yang dapat diberikan.

Manusia bukan sekadar alat untuk mencapai tujuan.

Guru tidak hanya melihat peserta didik sebagai angka dalam daftar nilai. Pemimpin tidak hanya melihat bawahannya sebagai tenaga kerja. Gereja tidak hanya melihat jemaat sebagai jumlah anggota.

Manusia perlu dilihat sebagai pribadi.

Iman mendorong manusia untuk menghargai manusia lain.

Yesus dan Sikap Menghargai Manusia

Pelayanan Yesus memberikan banyak gambaran tentang bagaimana manusia diperlakukan.

Yesus berjumpa dengan berbagai macam orang. Ia berinteraksi dengan orang yang sakit, miskin, tersisih, berdosa, dan mereka yang berada dalam berbagai keadaan kehidupan.

Dalam pelayanan-Nya, manusia tidak hanya dipandang berdasarkan label sosialnya.

Yesus memperlihatkan perhatian terhadap manusia secara konkret.

Salah satu prinsip penting dalam pengajaran Yesus terdapat dalam Markus 12:31:

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Markus 12:31

Kasih kepada sesama bukan sekadar perasaan. Kasih mempunyai konsekuensi dalam cara manusia memperlakukan manusia lain.

Karena itu, iman Kristen tidak cukup hanya diucapkan. Iman perlu hadir dalam hubungan antarmanusia.

Iman yang Terlihat dalam Perbuatan

Surat Yakobus memberikan hubungan yang sangat kuat antara iman dan perbuatan.

Yakobus 2:17 mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.

Ayat tersebut tidak berarti bahwa manusia memperoleh keselamatan hanya melalui perbuatan. Namun, ayat tersebut menunjukkan bahwa iman yang hidup mempunyai konsekuensi dalam kehidupan.

Jika seseorang mengaku mengasihi Allah tetapi tidak peduli kepada sesamanya, terdapat pertanyaan serius mengenai bagaimana iman tersebut diwujudkan.

Iman yang hidup seharusnya menghasilkan kehidupan yang mempunyai perhatian terhadap orang lain.

Karena itu, iman dan humanis dapat dipertemukan dalam kehidupan yang nyata: menolong, menghargai, mendengarkan, mengampuni, melayani, dan memperlakukan orang lain dengan kasih.

Humanis Bukan Berarti Mengabaikan Kebenaran

Ada hal penting yang perlu diperhatikan.

Menjadi humanis dalam perspektif Kristen bukan berarti menerima semua tindakan manusia tanpa pertimbangan moral.

Menghargai manusia tidak sama dengan membenarkan semua perilaku manusia.

Seseorang dapat menghargai pribadi orang lain sekaligus memberikan penilaian kritis terhadap tindakan yang dianggap tidak benar.

Dalam kehidupan Kristen, kasih dan kebenaran tidak perlu dipertentangkan.

Efesus 4:15 berbicara tentang mengatakan kebenaran di dalam kasih.

Prinsip ini penting. Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan verbal. Sebaliknya, kasih tanpa kebenaran dapat kehilangan arah moral.

Kebenaran perlu disampaikan dalam kasih.

Iman dan Humanis dalam Pendidikan Kristen

Hubungan ini sangat penting dalam pendidikan Kristen.

Pendidikan bukan hanya proses menyampaikan materi. Pendidikan adalah proses yang berhubungan dengan manusia.

Guru berhadapan dengan manusia yang mempunyai pengalaman, kemampuan, kebutuhan, dan latar kehidupan yang berbeda.

Karena itu, pendidikan Kristen perlu membangun budaya pembelajaran yang menghargai manusia.

Guru Kristen dapat menunjukkan iman melalui cara mengajar.

  • menghargai pendapat peserta didik;
  • mendengarkan dengan sungguh-sungguh;
  • memberikan kesempatan untuk bertanya;
  • menghindari penghinaan;
  • memberikan koreksi dengan kasih;
  • memperlakukan peserta didik secara adil;
  • mendorong peserta didik untuk bertumbuh.

Dengan demikian, humanisme dalam pendidikan Kristen bukan hanya teori. Ia dapat menjadi praktik pedagogis.

Iman dan Humanis dalam Kehidupan Sehari-hari

Iman dan humanis juga dapat ditemukan dalam tindakan sederhana.

Menolong seseorang yang membutuhkan. Mendengarkan orang yang sedang mengalami kesulitan. Menghormati pekerja yang melayani kita. Menghargai orang yang berbeda latar belakang. Tidak merendahkan seseorang karena pekerjaannya.

Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi ruang bagi iman untuk diwujudkan.

Iman tidak selalu membutuhkan panggung besar.

Kadang-kadang iman justru terlihat dalam perjalanan sehari-hari, dalam percakapan singkat, dalam cara seseorang memperlakukan orang yang ditemuinya, dan dalam kesediaan memberikan perhatian kepada sesama.

Karena itu, kehidupan sehari-hari dapat menjadi ruang praksis iman.

Dari Iman kepada Kemanusiaan yang Berdampak

Iman Kristen mempunyai dimensi vertikal dan horizontal.

Dimensi vertikal berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah.

Dimensi horizontal berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya.

Keduanya tidak seharusnya dipisahkan.

Kasih kepada Allah mempunyai hubungan dengan kasih kepada sesama.

Dalam Matius 22:37–39, Yesus menghubungkan kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama.

Dengan demikian, iman Kristen yang sehat tidak hanya menghasilkan manusia yang berbicara tentang Allah, tetapi juga manusia yang mampu menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan bersama.

Kesimpulan

Iman Kristen dan sikap humanis dapat berhubungan erat ketika penghargaan terhadap manusia berakar pada keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang memiliki martabat.

Karena itu, iman Kristen tidak seharusnya membuat manusia semakin jauh dari sesamanya. Sebaliknya, iman dapat mendorong seseorang untuk semakin peduli terhadap kehidupan manusia.

Iman memberi dasar; kasih memberi bentuk; tindakan menghadirkan dampaknya.

Pertanyaan bagi setiap orang percaya bukan hanya:

“Apa yang saya percayai?”

tetapi juga:

“Bagaimana iman saya membuat kehidupan orang lain menjadi lebih dihargai?”

Di titik inilah iman tidak berhenti sebagai keyakinan pribadi. Iman menjadi kehidupan yang hadir bagi sesama.


Sumber untuk Studi Lebih Lanjut

  • Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia.
  • C. S. Lewis, Mere Christianity, HarperOne.
  • John Stott, The Contemporary Christian, InterVarsity Press.
  • Thomas H. Groome, Christian Religious Education: Sharing Our Story and Vision, Harper & Row.

Catatan: Artikel ini disusun sebagai bahan literasi dan refleksi teologi Kristen. Pembaca dapat menggunakan sumber yang tercantum untuk memperdalam pembahasan.


Facebook Comment