Panduan RPS Sejarah Gereja Umum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) – STT Lukas Online

Panduan RPS Sejarah Gereja Umum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) – STT Lukas Online


Panduan Merumuskan CPL dan CPMK Berbasis OBE | STT Lukas Online

Panduan Merumuskan CPL dan CPMK Berbasis Outcome-Based Education (OBE)

Penulis: Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Ketua: STT Lukas Online


Identitas Mata Kuliah

  • Program Studi: Teologi / Pendidikan Agama Kristen
  • Perguruan Tinggi: STT Lukas Online
  • Mata Kuliah: Sejarah Gereja Umum
  • Kode Mata Kuliah: (diisi Prodi)
  • Bobot: 2 SKS
  • Semester: 3 / 4
  • Mata Kuliah Prasyarat: Pengantar Teologi, Pengantar Studi Alkitab, dan Filsafat (disarankan)
  • Dosen Pengampu: Dr. Yonas Muanley, M.Th.
  • Pendekatan Pembelajaran: Outcome-Based Education (OBE)

Deskripsi Mata Kuliah

Mata kuliah Sejarah Gereja Umum membahas perkembangan gereja Kristen dari gereja mula-mula hingga gereja modern dengan pendekatan historis dan reflektif. Mahasiswa diarahkan untuk memahami dinamika sejarah gereja, menganalisis peristiwa dan tokoh penting, serta mengaitkan nilai-nilai historis-teologis dengan kehidupan gereja dan pelayanan masa kini.

Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

  1. Mahasiswa mampu menjelaskan secara sistematis perkembangan sejarah gereja dari gereja mula-mula hingga gereja modern.
  2. Mahasiswa mampu menganalisis secara kritis peristiwa dan tokoh penting dalam sejarah gereja.
  3. Mahasiswa mampu merefleksikan makna teologis dari peristiwa sejarah gereja bagi iman dan pelayanan.
  4. Mahasiswa mampu mengaitkan sejarah gereja dengan konteks gereja Indonesia dan tantangan kekristenan masa kini.
  5. Mahasiswa mampu menunjukkan sikap akademik dan spiritual yang bertanggung jawab dan menghargai keberagaman tradisi gereja.

Tabel Pemetaan OBE: CPL – CPMK – Sub-CPMK – Asesmen

CPL Prodi CPMK Sub-CPMK Metode Pembelajaran Bentuk Asesmen Catatan Prasyarat
CPL Pengetahuan CPMK 1 Mahasiswa mampu menjelaskan periode gereja mula-mula dan konteks sosialnya Ceramah interaktif, diskusi Kuis, tugas individu Pengantar Teologi, Pengantar Studi Alkitab
CPL Pengetahuan CPMK 1 Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan gereja abad pertengahan dan reformasi Diskusi kelompok Tugas tertulis Pengantar Teologi, Filsafat
CPL Keterampilan Umum CPMK 2 Mahasiswa mampu menganalisis peran tokoh gereja dalam perubahan sejarah Studi kasus Presentasi Pengantar Teologi, Filsafat
CPL Sikap CPMK 3 Mahasiswa mampu merefleksikan nilai teologis dari peristiwa sejarah gereja Refleksi tertulis Esai reflektif Pengantar Teologi, Pengantar Studi Alkitab, Filsafat
CPL Keterampilan Khusus CPMK 4 Mahasiswa mampu mengaitkan sejarah gereja dengan konteks gereja Indonesia Diskusi kontekstual Proyek mini Pengantar Teologi, Filsafat
CPL Sikap & Tata Nilai CPMK 5 Mahasiswa menunjukkan sikap terbuka dan bertanggung jawab dalam diskusi Observasi Penilaian sikap Semua prasyarat

Rencana Pertemuan (14 Minggu)

  1. Pengantar Sejarah Gereja dan Metodologi
  2. Gereja Mula-Mula dan Dunia Romawi
  3. Konsili Gereja dan Pembentukan Doktrin
  4. Gereja Abad Pertengahan
  5. Reformasi Gereja
  6. Gereja Pasca-Reformasi
  7. Ujian Tengah Semester
  8. Pietisme dan Kebangunan Rohani
  9. Gereja dan Kolonialisme
  10. Gereja Modern dan Ekumenisme
  11. Gereja di Asia dan Indonesia
  12. Tantangan Gereja Kontemporer
  13. Refleksi Historis-Teologis
  14. Ujian Akhir Semester

Metode Pembelajaran

  • Ceramah interaktif
  • Diskusi kelompok
  • Studi kasus sejarah
  • Refleksi teologis
  • Presentasi mahasiswa

Sistem Penilaian

  • Partisipasi & sikap : 15%
  • Tugas & refleksi : 25%
  • Presentasi : 20%
  • UTS : 15%
  • UAS : 25%

Disusun oleh: Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Ketua: STT Lukas Online

Read More

Panduan Merumuskan CPL dan CPMK Berbasis Outcome-Based Education (OBE)

Panduan Merumuskan CPL dan CPMK Berbasis Outcome-Based Education (OBE)
Cara Merumuskan CPL dan CPMK Sesuai OBE | STT Lukas Online

Cara Merumuskan CPL dan CPMK Sesuai Outcome-Based Education (OBE)

Oleh: Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Jabatan: Ketua STT Lukas Online


Pendahuluan

Outcome-Based Education (OBE) merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan capaian pembelajaran sebagai pusat seluruh proses akademik. Dalam konteks pendidikan tinggi, termasuk pendidikan teologi, penerapan OBE menuntut perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang jelas, terukur, dan selaras.

Artikel ini disusun sebagai panduan praktis dan akademik bagi dosen dan pengelola program studi di STT Lukas Online dan perguruan tinggi sejenis dalam merumuskan CPL dan CPMK sesuai standar OBE, kebijakan MBKM, serta tuntutan akreditasi nasional.

Pengertian CPL dalam Kerangka OBE

Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) adalah rumusan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh lulusan setelah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran pada suatu program studi. Dalam pendekatan OBE, CPL menjadi arah strategis kurikulum dan fondasi bagi seluruh CPMK.

CPL umumnya mencakup empat unsur utama, yaitu:

  • Sikap dan tata nilai
  • Pengetahuan
  • Keterampilan umum
  • Keterampilan khusus

Langkah Merumuskan CPL Sesuai OBE

  1. Menelaah Visi dan Misi Institusi
    CPL harus selaras dengan visi keilmuan, spiritualitas, dan karakter lulusan yang ditetapkan oleh STT Lukas Online.
  2. Mengacu pada SN-Dikti dan OBE
    Rumusan CPL perlu sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi serta menekankan hasil belajar yang dapat diamati dan diukur.
  3. Menggunakan Kata Kerja Operasional
    CPL dirumuskan dengan kata kerja yang jelas, seperti: menganalisis, mengevaluasi, merancang, mengintegrasikan, dan menerapkan.
  4. Menjamin Relevansi Lulusan
    CPL harus mencerminkan kebutuhan gereja, masyarakat, dan dunia pelayanan Kristen kontemporer.

Pengertian CPMK dalam OBE

Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) adalah kemampuan spesifik yang harus dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan satu mata kuliah. CPMK merupakan turunan langsung dari CPL dan berfungsi sebagai penghubung antara kurikulum program studi dan proses pembelajaran di kelas.

Langkah Merumuskan CPMK yang Selaras dengan CPL

  1. Memetakan CPL ke Mata Kuliah
    Setiap mata kuliah harus berkontribusi secara jelas terhadap satu atau lebih CPL.
  2. Merumuskan CPMK yang Spesifik dan Terukur
    CPMK harus dapat diukur melalui asesmen yang dirancang secara sistematis.
  3. Menggunakan Taksonomi Bloom Revisi
    Kata kerja dalam CPMK sebaiknya mencerminkan level kognitif, afektif, dan psikomotorik yang diharapkan.
  4. Menyesuaikan dengan Metode dan Asesmen
    Setiap CPMK harus selaras dengan metode pembelajaran dan instrumen penilaian.

Contoh Hubungan CPL dan CPMK

Sebagai contoh, apabila salah satu CPL berbunyi:

“Mampu menganalisis dan menerapkan prinsip teologi Kristen dalam konteks pelayanan dan pendidikan.”

Maka CPMK pada mata kuliah terkait dapat dirumuskan sebagai:

“Mahasiswa mampu menganalisis konsep teologi Kristen dan menerapkannya dalam studi kasus pelayanan gerejawi.”

Penutup

Perumusan CPL dan CPMK yang selaras dengan Outcome-Based Education merupakan kunci utama dalam membangun kurikulum yang bermutu, akuntabel, dan relevan. Melalui pendekatan ini, STT Lukas Online diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik, matang secara spiritual, dan kontekstual dalam pelayanan.


Penulis: Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Ketua: STT Lukas Online

Read More

OBE: Pendekatan Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran di Perguruan Tinggi

OBE: Pendekatan Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran di Perguruan Tinggi
OBE: Pendekatan Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran di Perguruan Tinggi

OBE: Pendekatan Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran di Perguruan Tinggi

OBE atau Outcome-Based Education merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan hasil akhir pembelajaran sebagai pusat dari seluruh proses akademik. Dalam pendekatan ini, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan atau berapa lama mahasiswa mengikuti perkuliahan, melainkan dari apa yang benar-benar mampu dilakukan oleh mahasiswa setelah menyelesaikan proses pembelajaran.

Pendekatan OBE berkembang sebagai respons terhadap tuntutan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompleks. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga lulusan yang kompeten, relevan, dan siap berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat. Oleh karena itu, OBE hadir sebagai kerangka berpikir yang membantu institusi pendidikan menjawab tantangan tersebut secara sistematis dan terukur.

Makna Dasar Outcome-Based Education

Secara sederhana, OBE dapat dipahami sebagai pendekatan pendidikan yang dimulai dengan menetapkan tujuan akhir pembelajaran, kemudian seluruh proses pembelajaran dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan akhir ini dirumuskan dalam bentuk capaian pembelajaran yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diharapkan dimiliki oleh lulusan.

Dalam OBE, pertanyaan kunci yang selalu diajukan adalah: “Setelah lulus, kompetensi apa yang harus dimiliki mahasiswa agar ia dinyatakan berhasil?” Pertanyaan ini menggeser fokus pendidikan dari aktivitas mengajar dosen ke hasil belajar mahasiswa.

Pergeseran Paradigma dari Pendekatan Konvensional

Pendekatan konvensional dalam pendidikan tinggi cenderung berfokus pada materi ajar, silabus, dan jumlah pertemuan. Keberhasilan pembelajaran sering kali diukur melalui nilai ujian akhir tanpa melihat secara mendalam apakah mahasiswa benar-benar menguasai kompetensi yang dibutuhkan.

OBE membawa pergeseran paradigma yang signifikan. Kurikulum tidak lagi dipahami sebagai kumpulan mata kuliah, melainkan sebagai sistem terintegrasi yang dirancang untuk menghasilkan profil lulusan tertentu. Setiap mata kuliah memiliki peran yang jelas dalam mendukung capaian pembelajaran lulusan.

Capaian Pembelajaran sebagai Inti OBE

Capaian pembelajaran merupakan jantung dari pendekatan OBE. Capaian ini dirumuskan secara jelas, spesifik, dan dapat diukur. Dalam konteks perguruan tinggi, capaian pembelajaran dirancang agar mencerminkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan akademik, profesional, dan sosial.

Capaian pembelajaran tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga keterampilan praktis serta sikap dan nilai. Dengan demikian, OBE mendorong pendidikan yang holistik dan berorientasi pada pembentukan lulusan yang utuh.

Peran Dosen dalam Pendekatan OBE

Dalam kerangka OBE, peran dosen mengalami perubahan yang mendasar. Dosen tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi sebagai perancang pengalaman belajar. Dosen merancang strategi pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa mencapai capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.

Pembelajaran dalam OBE mendorong penggunaan metode aktif dan partisipatif, seperti diskusi, studi kasus, proyek, dan refleksi. Metode-metode ini membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.

Penilaian dalam Kerangka Outcome-Based Education

Penilaian dalam OBE dirancang untuk mengukur sejauh mana mahasiswa telah mencapai capaian pembelajaran. Penilaian tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi akhir, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Penilaian yang selaras dengan OBE biasanya bersifat autentik, yaitu menilai kemampuan mahasiswa melalui tugas-tugas yang mencerminkan situasi nyata. Dengan demikian, penilaian memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kompetensi mahasiswa.

OBE dan Budaya Mutu Perguruan Tinggi

OBE sangat erat kaitannya dengan budaya mutu. Pendekatan ini menekankan pentingnya evaluasi dan peningkatan berkelanjutan berdasarkan data hasil pembelajaran. Data tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran.

Dengan OBE, perguruan tinggi memiliki kerangka kerja yang jelas untuk memastikan mutu pendidikan. Proses akademik menjadi lebih transparan dan akuntabel bagi seluruh pemangku kepentingan.

OBE dalam Konteks Pendidikan Tinggi Keagamaan

Dalam pendidikan tinggi keagamaan, OBE tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, etika, dan spiritualitas. Capaian pembelajaran dirancang untuk mencerminkan integrasi antara kompetensi akademik dan nilai-nilai keimanan.

Pendekatan ini memungkinkan institusi pendidikan keagamaan menghasilkan lulusan yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan kesiapan melayani masyarakat.

Tantangan Implementasi OBE

Meskipun menawarkan banyak manfaat, implementasi OBE tidak lepas dari tantangan. Beberapa tantangan yang sering dihadapi adalah pemahaman yang belum merata, resistensi terhadap perubahan, serta keterbatasan sumber daya.

Oleh karena itu, implementasi OBE membutuhkan komitmen pimpinan, pendampingan dosen, serta penguatan budaya mutu agar dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

Penutup

Outcome-Based Education merupakan pendekatan kurikulum yang menempatkan capaian pembelajaran sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan. Dengan fokus pada hasil nyata, OBE membantu perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang kompeten, relevan, dan berkarakter.

Ketika diterapkan dengan pemahaman yang benar dan komitmen yang kuat, OBE bukan hanya menjadi tuntutan kebijakan, tetapi menjadi sarana strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.

Read More