page contents

pesan sponsor

Sunday, January 27, 2013

MK. Pembimbing Ke dalam Teologi Sistematik: Oleh Dr. Yonas Muanley, M.Th.


Pendahuluan

Mata kuliah ini sifatnya mengantar mahasiswa, khususnya mahasiswa pada semester dan tahunn ajaran yang sedang berlangsung ke bidang Teologi Sistematik. Di dalam Teologi Sistematik mahasiswa akan mempelajari doktrin yang dirumuskan Gereja sepanjang abad, yaitu:
  1. Teologia Proper (Allah)
  2. Antropologi (Manusia)
  3. Soteriologi (Keselamatan)
  4. Kristologi (Yesus Kristus)
  5. Pneumatologi (Roh Kudus)
  6. Eklesiologi (Gereja)
  7. Eskatologi (Akhir zaman)
Selain itu,  ada Teologi Biblika, Teologi Historika, Teologi Praktika, Teologi Kontemporer dll. Selanjutnya mahasiswa dapat melihat pada topic pembahasan pembagian Teologi pada halam selanjutnya. Bibliologi (Alkitab)
Ketujuh mata kuliah Teologi Sistematika atau Dogmatika sebagaimana yang disebutkan di atas akan dibahas dalam semester-semester selanjutnya oleh dosen dogmatika.
Jadi,  kita tidak akan membahas berbagai doktrin yang sudah disebutkan di atas. Mata kuliah ini hanya sifatnya pembimbing ke dalam  pengenalan akan Teologi Sistematik. Sekali lagi, mata kuliah ini sifatnya hanya pembimbing ke dalam Teologi Sistematik.



  1. Pengertian Dasar Studi Teologi Sistematika

1.1.        Pengertian Teologi Sistematika

Demi memudahkan kita memahami teologi sistematika maka berikut ini kita berusaha membahas kata teologi dan sistematika, kemudian pengertian dari Teologi Sistematika. Perlu diketahui bahwa isi Teologi Sistematik adalah upaya para ahli Teologi untuk membuat isi /ajaran Alkitab (PL dan PB) dipahami artinya secara logis dan sistematis. 

Studi Kata
Apa itu teologi?
Kata teologi yang kita pakai di Indonesia itu berasal dari bahasa Yunani maka baiklah kita memeriksa arti kata itu menurut pendapat beberapa teolog (kita hanya mengambil pendapat tiga teolog).
Paul Alvis:

Kata “teologi” berasal dari kata-kata Yunani yakni dari kata theos yang berarti Allah, dan logos yang berarti: “perkataan”, “pikiran”, “percakapan”.
Jadi, menurut arti kata ini teologi adalah berpikir atau berbicara tentang Allah. Bila dikatakan   bahwa teologi adalah berpikir tentang Allah, dapat berarti bahwa hal tersebut (berteologi) adalah sesuatu yang dapat kita kerjakan dalam kesendirian.

Henry C. Thiessen:

Istilah Teologi berasal dari dua kata Yunani, yaitu theos dan logos. Theos   berarti Tuhan dan logos berarti “kata”,  “wejangan” atau “ajaran”.
Jadi, secara sempit teologi dapat didefinisikan sebagai ajaran tentang Tuhan. Dan secara luas teologi dapat diartikan seluruh ajaran Kristen, dan bujan sekadar ajaran tentang Tuhan saja, tetapi juga semua ajaran yang membahas hubungan yang dipelihara oleh Tuhan dengan alam semesta ini. Atau secara luas teologi adalah ilmu tentang Tuhan dan hubungan-hubungan-Nya dengan alam semesta (Thiessen, 1995:2)

 A.H.Strong
Teologi (Yun: theologia, gabungan dari dua kata theos, Allah dan logos, logika). Jadi, secara sederhana A. H. Strong, mendefinisikan Teologi sebagai "ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta." Strong juga menghubungkan pengertian Teologi dengan pendapat Aquinas yakni karena teologia itu merujuk kepada Allah, maka, Thomas Aquinas, mendefinisikannya secara spesifik, sebagai "pikiran Allah, ajaran Allah dan memimpin kepada Allah. (Sinclair B. Ferguson: 1988, 680-681).

Kita bisa berbeda dalam memberi arti tentang teologi. Namun esensinya adalah Allah (Allah Tritunggal)  dan ciptaan-Nya. Dalam hal perlu dicermati pepatah yang menyatakan “guru kincing berdiri siswa kincing berlari” kita ganti menjadi “guru kincing berdiri murid bertanya mengapa guru kincing berdiri. Dalam hal ini para mahasiswa dapat memperluas pengertian kata teologi dari berbagai teolog berdasarkan buku-buku teologi Kristen yang berkualitas.

        1.4. Norma/sumber/metode

Bila dalam definisi teologi diartikan berpikir tentang Allah dan karya-Nya, merenung tentang Allah dan karya-Nya, ilmu tentang Allah dan karya-Nya maka jelaslah dibutuhkan norma/sumber/metode. Sebab bila tidak ada norma/sumber/metode maka setiap orang akan berbeda-beda dalam memikirkan tentang Allah dan karya-Nya. Mereka yang memulai dengan akal semata akan mengatakan bahwa Allah itu tidak ada (komunis), sebaliknya mereka yang memulai berpikir tentang Allah dan karya-Nya hanya berdasarkan pikiran semata (baca filsafat/berpikir mendalam dengan memakai metode berpikir ilmiah) akan menghasilkan teologi yang berbeda dengan Alkitab (Allah dan karya-Nya yang dibicarakan oleh mereka yang hanya berdasarkan pendekatan filsafat). Di sinilah pentingnya norma berteologi yaitu Alkitab, sumber berteologi yaitu Alkitab, metode berteologi yaitu Alkitab.
Dengan demikian maka berteologi sangat erat kaitannya dengan norma/sumber/metode. Hasil teologi sangat ditentukan oleh norma/sumber/metode berteologi. Ini disebabkan karena Teologi dalam definisinya yaitu berpikir, berbicara, perkataan, uraian, ilmu tentang Allah. Bila manusia yang berteologi tidak mempunyai norma/sumber/metode maka akan menghasilkan teologi yang tidak pasti. Dengan demikian norma berteologi/sumber berteologi/metode berteologi orang Kristen adalah Alkitab. Artinya orang Kristen dapat berpikir, merenung, berbicara, berkata-kata, bercakap-cakap, menuturkan tentang Allah sejauh yang disaksikan dalam Alkitab.
Jadi, norma berteologi, sumber berteologi, metode berteologi adalah Alkitab. Filsafat hanya membantu dalam berteologi berdasarkan Alkitab. 

Jadi, kita dapat mempertegas sumber berteologi Alkitab sebagai sumber utama dalam berteologi, selanjutnya tradisi gereja yaitu pandangan bapa-bapa gereja, buku-buku teologi biblika,historika atau filosofika untuk dipergunakan sebagai sarana membantu menyelidiki Alkitab dengan lebih sehat.
Sumber pertama menjadi pedoman untuk menilai sumber 2 dan 3 (lihat 3 point di atas).
Setelah kita membicarakan metode berteologi maka sekarang kita memperhatikan beberapa metode berteologi dari para teolog masa lampau.

  1. Struktur pembagian Teologia Sistematika

Teologi Kristen dibagi ke dalam 4 kelompok:
1. Teologi Eksegetis

Teologia Eksegetis meliputi penelaahan Bahasa-Bahasa, Arkeologi, Pengantar, Hemeneutika, Teologi Alkitabiah.
2. Teologi Historis

Teologi historis merunut sejarah umat Allah dalam Alkitab (PL) dan Gereja sejak Yesus Kristus [PB]. Teologi Historis membahas awal mula, perkembangan, dan penyebaran Agama yang sejati dan juga semua Doktrin, organisasi, dan kebiasaannya. Di dalamnya termasuk juga Sejarah Alkitab, Sejarah Gereja, Sejarah Pekabaran Injil, sejarah Ajaran dan sejarah Pengakuan Iman.
3. Teologi Sistematika
Teologi Sistematika menggunaan bahan-bahan yang disajikan oleh (1). Teologi Eksegesis dan (2). Teologi Historis, lalu menatanya menurut suatu Tatanan yang Logis sesuai dengan tokoh-tokoh besar dalam penelitian teologis. Teologi Sistematika membahas Apologetika, Polemik dan Ajaran Etika Alkitabiah.
4. Teologi Praktis

Teologi Praktis meliputi pokok-pokok seperti Homiletika, Organisasi dan Administrasi Gereja, Ibadat, Pendidikan, dan Penginjilan.
Jadi, integrasinya, Doktrin yang ada di Alkitab ditelaah secara Eksegetis berdasarkan Historisitasnya [doktrin berkembang dalam konteks sejarah secara progresif selama pembentukan PL dan PB], kemudian keduanya Disistematisasikan oleh para ahli untuk tujuan Praktis atau aplikasi hidup. [Henry C. Thiessen, Teologi Sistematik, (Malang: Gandum Mas, 1993), 31-32

  1. Sejarah Teologi Sistematika

            Berteologi itu pada esensinya bersifat individual tetapi juga bersifat komunal/bersama atau berteologi itu terjadi dalam kesendirian tetapi serempak kebersamaan. Oleh karena itu maka berteologi selalu ada dalam sejarah dan tidak pernah di luar sejarah. Berteologi ada dalam sejarah, telah dimulai sejak manusia ada di dunia ini. Contoh sederhana Adam dan Hawa berteologi di taman Eden (Kej. 1, 2 dan 3). Namun sejarah teologi yang akan kita bahas di sini yaitu berteologi secara sistematis. Kita mulai dengan Gereja mula-mula dan selanjutnya. Berikut ini bahasan secara singkat sejarah teologi sistematis.

Uraian tentang sejarah teologi sistematik dimulai dari: Origenes, Gregorius dari Nyssa, Augustinus, Thomas Aquinas, Johannes dari Damaskus, Philip Melanthon, Marthin Luther, Zwingli, John Calvin,  Friedrich Schleiermacher, Karl Bart, Paul Tillich   Karl Rahner dapat diikiuti dalam pembahasan tersendiri dalam halaman blog yang berbeda. Silakan lihat judul posting

Hubungan Teologi Sistematika Dengan Ilmu Lain

Hubungan fungsional antar mata kuliah sangat penting diketahui oleh setiap penanggungjawab dan pemberi mata kuliah. Hal ini dibutuhkan untuk kepentingan pelaksanaan kurikulum terutama dalam penyajian dan pengkajian isi/materi kuliah. Bila dosen memahami hubungan fungsional antar mata kuliah maka:
  1. Seluruh penyajian isi setiap mata kuliah merupakan suatu pengalaman belajar yang terarah dan terpadu dengan ruang lingkup, isi, kedalaman dan keluasaan yang jelas. Dengan demikian, setiap lulusan diharapkan dapat memiliki wawasan pengetahuan dan pengalaman yang tidak terlalu bervariasi kualitasnya.
  2. Terhindarnya “overlap”, pengulangan, tumpang tindih, kurang atau berlebihan dalam hal kedalaman dan keluasaan isi serta kajian dari materi kuliah terutama di antara mata kuliah yang serumpun dan berkaitan.
  3. Dosen-dosen yang mengasuh mata kuliah yang serumpun atau berkaitan dituntut untuk ada keterpaduan serta harus selalu berkonsultasi tentang pembatasan ruang lingkup maupun pengembangan isi mata kuliah, dan sekaligus juga untuk kepentingan melakukan verivikasi terhadap bobot sks yang diberikan setiap mata kuliah dalam kaitannya dengan kuliah tatap muka, tugas terstruktur, tugas mandiri dan system penilaian keberhasilan mahasiswa.
  4. Ada kejelasan tentang hubungan antar mata kuliah yang membutuhkan “prasyarat” untuk mata kuliah sebelumnya, sehingga mahasiswa terikat untuk tidak sembarangan mengontrak mata kuliah
  5. Penyebaran mata kuliah ke dalam setiap semester dapat ditata secara runtut dan berkelanjutan, dengan alasan yang logis dan bermakna bagi mahasiswa dalam rangka pembentukan kompetensi lulusan yang utuh dan bermutu.

Berikut ini peta skematis hubungan fungsional antar mata kuliah, terutama khusus mata kuliah-mata kuliah untuk Kurikulum Standar Minimal:

Hubungan Sistematika Teologi dengan disiplin ilmu lain seperti:

    1. Biblika. Hubungan Biblika dengan teologi sistematika

Disiplin ilmu Biblika menolong Teologi Sistematik dalam menyusun ajaran-aran Alkitab secara benar dan logis sehingga dapat diterima secara akal.
Jadi, teologi Biblika menolong teologi sistematika dalam menelusuri tema tertentu (misalnya penebusan, perjanjian dst.) akan menyajikan materi yang luas dari Alkitab secara progresif.
             
    1. Historika. Hubungan teologi historika dengan teologi sistematika

Disiplin ilmu historika menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran-pengajaran Alkitab sebagaimana yang telah digumuli gereja masa lampau.
Jadi, disiplin ilmu historika memberi kontribusi dengan memperlihatkan berbagai cara penafsiran Alkitab yang pernah dilakukan gereja atau teolog di masa lampau.


    1. Praktika. Hubungan teologi historika dengan teologi sistematika
             
Menolong teologi sistematika mendaratkan isi teologi atau teologi praktika adalah mengenai apa adanya dan apa yang harus dilaksanakan.
Disiplin ilmu teologi praktika menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran Alkitab sehingga mudah diterapkan dalam kehidupan nyata.
             
  1. Oikumenika. Hubungan Oikumenika dengan teologi sistematika           

Disiplin ilmu oikumenika menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran Alkitab dengan memperhatikan aspek oikumenis.
             
Filsafat. Hubungan filsafat (berpikir kritis, berpikir mendalam tentang seluruh kenyataan) dengan teologi sistematika    

Disiplin ilmu filsafat menolong Teologi Sistematika secara kritis menyusun ajaran-ajaran Alkitab sehingga dapat dipertanggungjawabkan
             
Agama-agama. Hubungan agama-agama dengan teologi sistematika

Ilmu agama-agama menolong Teologi sistematika dalam pertanggungjawaban teologi terhadap sesame teman teologis.

Pembagian Teologi

Biblika
Sistematika
Historika
Praktika
Pengetahuan dan Pembimbing PL
Dogmatika
Sejarah Gereja Umum
PAK
Pengetahuan dan Pembimbing PB
Etika
Sejarah Gereja Asia
PWG
Bahasa Ibrani

Sejarah Gereja Indonesia
Kateketika
Bahasa Yunani

Oikumenika
Liturgika
Hermeneutika

Missiologi
Homilia
Tafsir PL

Agama Suku
Musik Gereja
Tafsir PB

Hinduisme dan Budhaisme
Pastoral
Teologi PL

Islamologi
Manajemen Gereja
Teologi PB




Tuhan memberkati

Salam
Ketua STT Lukas Online
YM



0 comments:

Post a Comment

pcash3

pcash2