TEOLOGI IMLEK

TEOLOGI IMLEK
Mencermati dalam evaluasi teologis terhadap logi-logi dalam Imlek dengan pendekatan Yustinus Martir

Sunday, January 27, 2013

MK. Pembimbing Ke dalam Teologi Sistematik: Oleh Dr. Yonas Muanley, M.Th.


Pendahuluan

Mata kuliah ini sifatnya mengantar mahasiswa, khususnya mahasiswa pada semester dan tahunn ajaran yang sedang berlangsung ke bidang Teologi Sistematik. Di dalam Teologi Sistematik mahasiswa akan mempelajari doktrin yang dirumuskan Gereja sepanjang abad, yaitu:
  1. Teologia Proper (Allah)
  2. Antropologi (Manusia)
  3. Soteriologi (Keselamatan)
  4. Kristologi (Yesus Kristus)
  5. Pneumatologi (Roh Kudus)
  6. Eklesiologi (Gereja)
  7. Eskatologi (Akhir zaman)
Selain itu,  ada Teologi Biblika, Teologi Historika, Teologi Praktika, Teologi Kontemporer dll. Selanjutnya mahasiswa dapat melihat pada topic pembahasan pembagian Teologi pada halam selanjutnya. Bibliologi (Alkitab)
Ketujuh mata kuliah Teologi Sistematika atau Dogmatika sebagaimana yang disebutkan di atas akan dibahas dalam semester-semester selanjutnya oleh dosen dogmatika.
Jadi,  kita tidak akan membahas berbagai doktrin yang sudah disebutkan di atas. Mata kuliah ini hanya sifatnya pembimbing ke dalam  pengenalan akan Teologi Sistematik. Sekali lagi, mata kuliah ini sifatnya hanya pembimbing ke dalam Teologi Sistematik.



  1. Pengertian Dasar Studi Teologi Sistematika

1.1.        Pengertian Teologi Sistematika

Demi memudahkan kita memahami teologi sistematika maka berikut ini kita berusaha membahas kata teologi dan sistematika, kemudian pengertian dari Teologi Sistematika. Perlu diketahui bahwa isi Teologi Sistematik adalah upaya para ahli Teologi untuk membuat isi /ajaran Alkitab (PL dan PB) dipahami artinya secara logis dan sistematis. 

Studi Kata
Apa itu teologi?
Kata teologi yang kita pakai di Indonesia itu berasal dari bahasa Yunani maka baiklah kita memeriksa arti kata itu menurut pendapat beberapa teolog (kita hanya mengambil pendapat tiga teolog).
Paul Alvis:

Kata “teologi” berasal dari kata-kata Yunani yakni dari kata theos yang berarti Allah, dan logos yang berarti: “perkataan”, “pikiran”, “percakapan”.
Jadi, menurut arti kata ini teologi adalah berpikir atau berbicara tentang Allah. Bila dikatakan   bahwa teologi adalah berpikir tentang Allah, dapat berarti bahwa hal tersebut (berteologi) adalah sesuatu yang dapat kita kerjakan dalam kesendirian.

Henry C. Thiessen:

Istilah Teologi berasal dari dua kata Yunani, yaitu theos dan logos. Theos   berarti Tuhan dan logos berarti “kata”,  “wejangan” atau “ajaran”.
Jadi, secara sempit teologi dapat didefinisikan sebagai ajaran tentang Tuhan. Dan secara luas teologi dapat diartikan seluruh ajaran Kristen, dan bujan sekadar ajaran tentang Tuhan saja, tetapi juga semua ajaran yang membahas hubungan yang dipelihara oleh Tuhan dengan alam semesta ini. Atau secara luas teologi adalah ilmu tentang Tuhan dan hubungan-hubungan-Nya dengan alam semesta (Thiessen, 1995:2)

 A.H.Strong
Teologi (Yun: theologia, gabungan dari dua kata theos, Allah dan logos, logika). Jadi, secara sederhana A. H. Strong, mendefinisikan Teologi sebagai "ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta." Strong juga menghubungkan pengertian Teologi dengan pendapat Aquinas yakni karena teologia itu merujuk kepada Allah, maka, Thomas Aquinas, mendefinisikannya secara spesifik, sebagai "pikiran Allah, ajaran Allah dan memimpin kepada Allah. [Sinclair B. Ferguson,ENDT: "Theology" (Downers Grove, Illinois, 1988), 680-681].
Sistem Teologi sebagaimana yang dipaparkan diatas bukan eksklusif milik orang Kristen, tetapi semua agama. Pada umumnya, dunia sekuler, berdasarkan definisi filsafat Aristoteles, menyebut disipilin Teologi sebagai Filsafat Teologi atau Metafisika. Maka jelaslah bahwa teologi Kristen harus berbeda dengan agama-agama lain, perbedaannya terletak pada sumber berteologi. Sumber berteologinya Kristen adalah Alkitab. Ini berarti bagi gereja, Teologia memiliki dua pengertian, yaitu (1). Pengajaran tentang Allah dan (2). Pengetahuan tentang Allah. Sumber utama Teologi Kristen adalah Alkitab. Teologia Kristen adalah upaya logis untuk mempelajari tentang Allah dengan sumber utama adalah Alkitab. Sedangkan tradisi dan tulisan-tulisan bapak-bapak gereja dan teolog-teolog klasik lainnya adalah sebagai pembantu-panduan pengembangan Teologi selanjutnya[1].
Ada pepatah yang menyatakan “guru kincing berdiri siswa kincing berlari” kita ganti menjadi “guru kincing berdiri murid bertanya mengapa guru kincing berdiri. Dalam hal ini para mahasiswa dapat memperluas pengertian kata teologi dari berbagai teolog berdasarkan buku-buku teologi Kristen yang berkualitas.
        1.4. Norma/sumber/metode

Bila dalam definisi teologi diartikan berpikir tentang Allah dan karya-Nya, merenung tentang Allah dan karya-Nya, ilmu tentang Allah dan karya-Nya maka jelaslah dibutuhkan norma/sumber/metode. Sebab bila tidak ada norma/sumber/metode maka setiap orang akan berbeda-beda dalam memikirkan tentang Allah dan karya-Nya. Mereka yang memulai dengan akal semata akan mengatakan bahwa Allah itu tidak ada (komunis), sebaliknya mereka yang memulai berpikir tentang Allah dan karya-Nya hanya berdasarkan pikiran semata (baca filsafat/berpikir mendalam dengan memakai metode berpikir ilmiah) akan menghasilkan teologi yang berbeda dengan Alkitab (Allah dan karya-Nya yang dibicarakan oleh mereka yang hanya berdasarkan pendekatan filsafat). Di sinilah pentingnya norma berteologi yaitu Alkitab, sumber berteologi yaitu Alkitab, metode berteologi yaitu Alkitab.
Dengan demikian maka berteologi sangat erat kaitannya dengan norma/sumber/metode. Hasil teologi sangat ditentukan oleh norma/sumber/metode berteologi. Ini disebabkan karena Teologi dalam definisinya yaitu berpikir, berbicara, perkataan, uraian, ilmu tentang Allah. Bila manusia yang berteologi tidak mempunyai norma/sumber/metode maka akan menghasilkan teologi yang tidak pasti. Dengan demikian norma berteologi/sumber berteologi/metode berteologi orang Kristen adalah Alkitab. Artinya orang Kristen dapat berpikir, merenung, berbicara, berkata-kata, bercakap-cakap, menuturkan tentang Allah sejauh yang disaksikan dalam Alkitab.
Jadi, norma berteologi, sumber berteologi, metode berteologi adalah Alkitab. Filsafat hanya membantu dalam berteologi berdasarkan Alkitab. 

Jadi, kita dapat mempertegas sumber berteologi Alkitab sebagai sumber utama dalam berteologi, selanjutnya tradisi gereja yaitu pandangan bapa-bapa gereja, buku-buku teologi biblika,historika atau filosofika untuk dipergunakan sebagai sarana membantu menyelidiki Alkitab dengan lebih sehat.
Sumber pertama menjadi pedoman untuk menilai sumber 2 dan 3 (lihat 3 point di atas).
Setelah kita membicarakan metode berteologi maka sekarang kita memperhatikan beberapa metode berteologi dari para teolog masa lampau.

  1. Struktur pembagian Teologia Sistematika

Teologi Kristen dibagi ke dalam 4 kelompok:
1. Teologi Eksegetis

Teologia Eksegetis meliputi penelaahan Bahasa-Bahasa, Arkeologi, Pengantar, Hemeneutika, Teologi Alkitabiah.
2. Teologi Historis

Teologi historis merunut sejarah umat Allah dalam Alkitab (PL) dan Gereja sejak Yesus Kristus [PB]. Teologi Historis membahas awal mula, perkembangan, dan penyebaran Agama yang sejati dan juga semua Doktrin, organisasi, dan kebiasaannya. Di dalamnya termasuk juga Sejarah Alkitab, Sejarah Gereja, Sejarah Pekabaran Injil, sejarah Ajaran dan sejarah Pengakuan Iman.
3. Teologi Sistematika
Teologi Sistematika menggunaan bahan-bahan yang disajikan oleh (1). Teologi Eksegesis dan (2). Teologi Historis, lalu menatanya menurut suatu Tatanan yang Logis sesuai dengan tokoh-tokoh besar dalam penelitian teologis. Teologi Sistematika membahas Apologetika, Polemik dan Ajaran Etika Alkitabiah.
4. Teologi Praktis

Teologi Praktis meliputi pokok-pokok seperti Homiletika, Organisasi dan Administrasi Gereja, Ibadat, Pendidikan, dan Penginjilan.
Jadi, integrasinya, Doktrin yang ada di Alkitab ditelaah secara Eksegetis berdasarkan Historisitasnya [doktrin berkembang dalam konteks sejarah secara progresif selama pembentukan PL dan PB], kemudian keduanya Disistematisasikan oleh para ahli untuk tujuan Praktis atau aplikasi hidup. [Henry C. Thiessen, Teologi Sistematik, (Malang: Gandum Mas, 1993), 31-32

  1. Sejarah Teologi Sistematika

            Berteologi itu pada esensinya bersifat individual tetapi juga bersifat komunal/bersama atau berteologi itu terjadi dalam kesendirian tetapi serempak kebersamaan. Oleh karena itu maka berteologi selalu ada dalam sejarah dan tidak pernah di luar sejarah. Berteologi ada dalam sejarah, telah dimulai sejak manusia ada di dunia ini. Contoh sederhana Adam dan Hawa berteologi di taman Eden (Kej. 1, 2 dan 3). Namun sejarah teologi yang akan kita bahas di sini yaitu berteologi secara sistematis. Kita mulai dengan Gereja mula-mula dan selanjutnya. Berikut ini bahasan secara singkat sejarah teologi sistematis.
             
2.1. Gereja Mula-mula/Gereja Lama:

            Origenes    :

Karya Origenes, Asas-asas Pertama yang dikarang pada tahun 220-an biasanya dianggap sebagai “teologi sistematik” yang pertma.
Origenes tertarik dengan hubungan antara roh dan zat.
Origenes mengajarkan tentang hierarki malaikat-malaikat dan setan-setan dan pra eksistensi jiwa-jiwa manusia serta penjelmaannya kembali dalam masa atau masa-masa yang akan datang dalam bentuk yang makin rohani.
Jatuh bangunnya sejarah ciptaan adalah sejarah mengenai pengembalian ke asal
Origenes mempertahankan gagasan kebebasan mahluk sebagai bentuk perlawanan Kristen terhadap fatalisme Gnostik.
Origenes mengharapkan bahwa oleh “pendidikan’, “dorongan” dan “hukuman” semua mahluk rasional akan menjadi bagian dari pemulihan universal dari kesatuan dan kesempurnaan di dalamnya “Allah adalah segala dalam segalanya”.(avis, 2001:59-60)

            Gregorius dari Nyssa

Ia terkenal karena tafsiran-tafsirannya yang bersifat mistik pada Hidup Musa dan Kidung Agung.
Ia juga merumuskan pernyataan klasik mengenai Trinitas pada akhir abad ke-4.
Orasi Kateketik Besar merupakan karya tulis Gregorius yang secara sistematik menguraikan iman Kristen. Karya itu dipakai sebagai bantuan bagi pengajar katekisasi.
Pengajar harus memperhatikan berbagai latar belakang asal dari orang yang bertanya-tanya serta calon sidi.
Melawan ateisme,  keberadaan Allah harus dibuktikan dari sudut kebijaksanaan dan seni penciptaan.
Trinitas harus dipertahankan melawan monoteisme Yahudi dan politeisme orang kafir.
Logos ilahi adalah perantara penciptaan, dan umat manusia secara khusus adalah hasil berlimpah ruah kasihNya.
Manusia adalah mahluk berakal budi yang diciptakan untuk mengambil bagian dan bersukacita dalam berkat-berkat Allah.
Karunia kebebasan telah disalah gunakan untuk menolak hal-hal yang baik demi hal-hal yang kurang berharga.
Inkarnasi Logos- dalam hal apapun tidak asing bagi ciptaanNya sendiri – adalah perbuatan bebas kasih Allah, dilaksanakan karena umat manusia butuh sentuhan agar dapat disembuhkan.
Allah merendahkan diri menunjukkan pembuktian kuasaNya
Keadilan Allah diperlihatkan dalam perbuatan, bahkan si pendusta telah diperlakukan secara adil dalam karya penebusan.
Penyelamatan harus diterima melalui iman dan dilaksanakan melalui keutamaan.
Bila orang memintanya dari Allah, dengan penuh kepercayaan akan janji-Nya, maka Ia akan memperbaharui jiwa lewat baptisan.
Lewat roti perjamuan yang telah menjadi tubuh-Nya, firman pemberi kehidupan memelihara orang percaya untuk penyatuan abadi dengan-Nya dalam kebahagiaan yang tak terkatakan.
Anak Allah harus dikenali lewat akhlak serta keserupaan rohani mereka dengan Sang Bapa.(Avis, 2001:60-61)


            Augustinus

Augustinus menwarkan beberapa tahap nasehat dan contoh-contoh untuk menyajikan iman Kristen pada tahap awal kepada para accedentes (orang yang ingin menjadi katekumen).
Pertama, Augustinus menjelaskan sejarah penyelamatan dari penciptaan sampai ke gereja masa kini dengan tujuan agar tujuan kasih Allah dalam kenyataan dan peristiwa terkait menjadi nampak.
Kedua, Pemantapan ini perlu disusul oleh dorongan moral yang didasarkan pada kebangkitan akhir, pengadilan akhir, dan harapan akan kesukacitaan abadi.
Kebajikan manusia yang sesungguhnya adalah kesalehan dan Allah harus dipuja oleh iman, pengharapan dan kasih.
Lalu Augustinus melanjutkan dengan “membukakan tujuan dari ketiga karunia tersebut, yaitu: apa yang harus kita percaya, apa yang harus kita harapkan, dan apa yang harus kita kasihi”. Iman dijelaskan secara rinci sesuai pasal-pasal Pengakuan Iman Rasuli
Augustinus membuat pembedaan antara dua jenis “kasih”, yaitu nafsu dan kebaikan hati, cinta-diri dan cinta pemberian Allah, terhadap Allah dan sesama. (Avis, 2001:61)

            Thomas Aquinas

Thomas adalah anggota Ordo Dominikan
Buku Dogmatisnya disebut Summa Theologiae. Isi buku ini banyak mempengaruhi Gereja Katolik Roma melalui Konsili Trente dan pemulihan ajaran Thomas Aquinas tahun 1880-1960.
Buku ini belum selesai pada saat penulis meninggal, tahun 1274.
Karya yang sangat besar itu ditulis “dari iman ke iman” dan karena itu buku ini mampu menangani lebih langsung dari sudut pandang Kristen banyak tema yang dulu dibahas dalam bukunya Summa Contra Gentiles. Buku ini menjadi pegangan bagi misionaris dan orang-orang yang mungkin mau berpindah agama dari Yudaisme dan Islam.
Summa Theologiae diawali dengan pengetahuan tentang Allah, apa saja yang dapat diketahui oleh akal budi, dan apa yang tergantung pada percaya dalam wahyu ilahi dan apa status bahasa kita berkenaan dengan Allah. Bagian pertama ini dilanjutkan dengan pembahasan mendalam mengenai Trinitas, penciptaan dan sifat manusia.
Bagian kedua dari Summa Theologiae mengambil contoh dari buku Aristoteles yang berjudul Etica Nicomachea, yang didalamnya Aquinas menemukan banyak pemikiran Aristoteles yang sehaluan dengan pemikiran moral Kristen.
Bagian ketiga dari Summa Theologiae berisi pokok-pokok dogmatis tentang inkarnasi dan sakramen-sakramen. Tiap pertanyaan penting dibahas dalam beberapa pasal, yang masing-masing diawali dengan sub pertanyaan. Sub pertanyaan ini diberi jawaban pertama yang masuk akal (“Videtur”, “Kelihatannya”). Kemudian Thomas mengemukakan pendirian lain secara singkat  (“Sed contra”.”Tetapi di lain pihak”), biasanya di ambil Alkitab atau para Bapa Gereja.
Akhirnya Aquinas mengembangkan pendapatnya sendiri (Respondeo dicendum”, Aku menjawab”).
Tidak lama sebelum meninggal, Aquinas mendapat penglihatan. Pada waktu ia melayani kebaktian, ia menolak untuk meneruskan penulisan “Summa”. “Aku tak dapat melanjutkannya, karena apa yang telah saya tulis, sekarang kelihatan seperti jerami.” (Alvis, 2001: 64).

            2.2. Gereja Abad Pertengahan (590 –1492)

            Johannes dari Damaskus

Ia adalah pengarang madah (lagu) dan pembela pemujaan ikon abad ke-8.
Ia adalah penulis buku Pancuran Pengetahuan yang terdiri dari tiga jilid. Isi buku itu mencakup filosofis yang diilhami dari Aristoteles, satu kopendium tentang ajaran-ajaran sesat serta dalam keempat buku jilid 3 Johanes memadukan ajaran bapak-bapak Gereja Yunani.
Pertama-tama  tentang Allah: Allah bersifat tidak dapat dimengerti; tetapi keberadaan-Nya dan keesaan-Nya dapat disimpulkan dari sifat Alam semesta yang tidak mutlak perlu ada serta keteraturannya; selain itu Ia menyingkapkan diri-Nya secara memadai  demi kebaikan kita dalam kata-kata kesaksian Hukum Taurat, para nabi, para rasul dan penulis Injil; dengan itu kita dapat mengetahui bahwa Allah adalah Tritunggal, walaupun cara keberadaan-Nya tidak dapat diketahui persis.
Kedua, tentang ciptaan: malaikat-malaikat diciptakan lebih dahulu dan Iblis adalah yang pertama berpaling dari kebaikan dan menjadi jahat.
Manusia diciptakan menurut citra Allah, yaitu dengan pikiran dan kemauan bebas, dan menurut rupa Allah, yaitu untuk maju dalam jalan kebenaran; tetapi manusia jatuh karena keangkuhan dan menjadi budak dari nafsu dan keinginan, namun Allah tetap memelihara kita
Ketiga, dalam aturan penyelamatan, Allah telah berusaha memenangkan kita kembali, akhirnya Ia masuk dalam keberadaan kita  dan bekerja dari dalam, lewat Putra-Nya yang menjadi manusia
Keempat karena Kristus tidak berdosa maka kematian tak dapat menahan dia; melalui iman dan baptisan kita  dipulihkan didalam Dia untuk bersekutu dengan Allah, dikembalikan pada jalan keutamaan dan diperbaharui dalam kehidupan yang dipelihara oleh Perjamuan Kudus.
Karya Johannes Damaskenus banyak digunakan dalam Gereja Timur.   

            Thomas Aquinas

Thomas adalah anggota Ordo Dominikan
Buku Dogmatisnya disebut Summa Theologiae. Isi buku ini banyak mempengaruhi Gereja Katolik Roma melalui Konsili Trente dan pemulihan ajaran Thomas Aquinas tahun 1880-1960.
Buku ini belum selesai pada saat penulis meninggal, tahun 1274.
Karya yang sangat besar itu ditulis “dari iman ke iman” dan karena itu buku ini mampu menangani lebih langsung dari sudut pandang Kristen banyak tema yang dulu dibahas dalam bukunya Summa Contra Gentiles. Buku ini menjadi pegangan bagi misionaris dan orang-orang yang mungkin mau berpindah agama dari Yudaisme dan Islam.
Summa Theologiae diawali dengan pengetahuan tentang Allah, apa saja yang dapat diketahui oleh akal budi, dan apa yang tergantung pada percaya dalam wahyu ilahi dan apa status bahasa kita berkenaan dengan Allah. Bagian pertama ini dilanjutkan dengan pembahasan mendalam mengenai Trinitas, penciptaan dan sifat manusia.
Bagian kedua dari Summa Theologiae mengambil contoh dari buku Aristoteles yang berjudul Etica Nicomachea, yang didalamnya Aquinas menemukan banyak pemikiran Aristoteles yang sehaluan dengan pemikiran moral Kristen.
Bagian ketiga dari Summa Theologiae berisi pokok-pokok dogmatis tentang inkarnasi dan sakramen-sakramen. Tiap pertanyaan penting dibahas dalam beberapa pasal, yang masing-masing diawali dengan sub pertanyaan. Sub pertanyaan ini diberi jawaban pertama yang masuk akal (“Videtur”, “Kelihatannya”). Kemudian Thomas mengemukakan pendirian lain secara singkat  (“Sed contra”.”Tetapi di lain pihak”), biasanya di ambil Alkitab atau para Bapa Gereja.
Akhirnya Aquinas mengembangkan pendapatnya sendiri (Respondeo dicendum”, Aku menjawab”).
Tidak lama sebelum meninggal, Aquinas mendapat penglihatan. Pada waktu ia melayani kebaktian, ia menolak untuk meneruskan penulisan “Summa”. “Aku tak dapat melanjutkannya, karena apa yang telah saya tulis, sekarang kelihatan seperti jerami.” (Alvis, 2001: 64).

            Philip Melanchthon

Melanchthon (1497-1560) sang “guru Jerman” adalah orang pertama yang mensistematisasikan, atau menurut sementara orang, menjinakan pemikiran Luther.
Gereja adalah hanya mereka yang menerima Buku ini [Alkitab] dan mendengarkan, mempelajari serta mengikuti pemikirannya dalam ibadah dan moral
Inti pusat Alkitab serta dari doktrin murni adalah pembenaran oleh iman. Melanchthon merumuskan gagasan ini [pembenaran oleh iman] dengan cara yang kurang berbau predestinasi dibandingkan dengan Marthen Luther: “Allah menarik orang, tetapi Ia menarik mereka yang bersedia”.
Bukunya yang terkenal “Loci communes rerum theologicarum berisi pokok-pokok umum yang bersifat soteriologis, yaitu dosa, anugerah, Taurat dan Injil, pembenaran dan iman, pekerjaan iman dalam kasih dan lambing-lambang sacramental, yang meyakinkan orang percaya akan janji-janji Allah dan karya keselamatan Kristus. Bahkan ajaran sepenuhnya tentang Allah Tritunggal, pengalaman gereja dalam ibadah, doa, khotbah dan sakramen. 

            2.3. Gereja Abad Reformasi dan Post Reformasi (1517 – Kini)

            Marthen Luther

Teologinya bersifat Kristosentris.
Keselamatan itu hanya berdasarkan anugerah
Katekismus kecil: berisi 10 hukum, PIR, Doa Bapa Kami, Sakramen Baptisan, dan Perjamuan Kudus.
Garis merah teologisnya ialah pengetahuan tentang Allah dan kita sendiri, yang saling berhubungan dengan focus tetap pada Kristus sebagai perantara

            Zwingli
Ia menyatakan: suatu doktrin tidak boleh berlawanan dengan  akal, bagi Luther peranan akal dalam teologi jauh lebih kurang.
Alkitab mempunyai wewenang terakhir.
Firman Allah adalah pasti. Kalau Allah berbicara terjadilah.
Firman Allah juga jelas, Akan tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin terjadi salah tafsir. … (Lane, 2005:144-145)

            Johanes Calvin

Garis merah teologisnya ialah pengetahuan tentang Allah dan kita sendiri, yang saling berhubungan dengan focus tetap pada Kristus sebagai perantara
Karyanya yang terkenal adalah “Institutio Agama Kristen”
Buku pertama Isinya membicarakan pengetahuan tentang Allah sebagai pencipta dan pemelihara. Alkitab adalah kacamata yang memperbaiki gagasan yang tidak jelas tentang Allah yang diperoleh umat manusia dari alam dan sejarah.
Buku kedua berisi pengetahuan tentang Allah penebus, memperlihatkan bagaimana penebusan manusia yang telah hilang harus dicari di dalam Kristus.
Buku ketiga berjudul “Cara kita mengambil bagian dalam anugerah Kristus, kebaikan-kebaikan yang kita peroleh dari padanya dan hasil-hasil yang dibawanya. Selain itu membahas tentang pneumatologis, iman, kelahiran kembali, kepastian, penyucian dan doa serta predestinasi.
Calvin yakin bahwa pra pengetahuan Allah adalah aktif dan menentukan. Allah tidak memilih orang-orang yang mengetahui sebelumnya, bahwa mereka patut mendapat anugerah, tetapi mereka yang dipilih Allah di kemudian hari menjadi percaya, justru karena mereka dikenali dan terpilih sebelumnya
Buku keempat berisi Alat-alat atau sarana-sarana yang dengannya Allah mengundang kita untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Kristus.

            Friedrich Schleiermacher

Sering disebut “Bapa teologi modern.”
Agama adalah perasaan akan ketergantungan mutlak manusia. Tetapi dari mananya agama adalah Allah.
Yesus memiliki kesadaran akan Allah yang sempurna dan di sanalah letak sifat keTuhanan-Nya.
Yesus membebaskan manusia dari sifat melupakan Allah dan yang mendorong kesadaran  beragama mereka yang menerimanya, baik secara langsung maupun lewat pemberian Kristus.
Dalam bukunya berjudul Christian Faith (edisi 1820-1821 dan 1830-1831), doktrin-doktrin Klristen adalah riwayat perasaan-perasaan keagamaan  Kristen yang diungkapkan dalam bahasa, dan teologi dogmatis adalah ilmu yang mensistematisasikan doktrin yang berlaku dalam Gereja Kristen pada waktu tertentu atau menurut J.H.S. Kent teologi sistematis Schleiermacher sebagai “penjababaran empiris dari pengalaman (Kristen)”
Namun boleh dipertanyakan apakah pemahaman Schleirmacher tentang pribadi dan karya Kristus secara memadai cocok dengan Alkitab dan tradisi sejarah dogma serta tradisi liturgis, dan karena itu juga dengan pengalaman yang diakui gereja sebagai pengalaman Kristen yang normative.
Memang pembahasan Schleirmacher tentang Trinitas, yang ada dalam beberapa halaman paling akhir, adalah lemah (Alvis, 2001 : 66).

            Karl Bart
Karl Bart (1866-1968) adalah teolog yang paling berisikeras melawan arus “ modernitas.
Tafsiran yang paling terkenal adalah tentang surat Roma (edisi ke-2 1921.
Ia menekankan tentang penegasan yang halus tentang prioritas Allah dan pengharapan kuat tentang kemenangan anugerah.
Penyingkapan diri Allah Tritunggal berpusat pada inkarnasi, yang secara asli dan sah disaksikan dalam Alkitab dan diberitakan oleh Gereja.
Berkaitan dengan Firman Allah ialah “Pengetahuan tentang Allah”, yang di dalamnya Allah tampil sebagai “Allah yang mengasihi dalam kebebasan.
Ia menghubungkan doktrin Ciptaan dengan doktrin “Perjanjian” ciptaan dilihat “sebagai dasar eksternal dari perjanjian, dan perjanjian sebagai dasar internal ciptaan. (Alvis, 2001 :67)
             
            Paul Tillich

Paul Tilich (1886-1965) adalah seorang teolog terkenal di Amerika Utara.

Teologinya bersifat studi korelasi.
Dengan teologi relasi, Tilich berusaha mendengarkan pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan manusia dan kemudian menjelaskan penyingkapan ilahi sebagai jawabannya.
Imrumuskan secara simbolis bahwa: Allah menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia, walupun sebenarnya sudah “di bawah dampak jawaban Allah manusia mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut.(Alvis, 2001:68)

             Karl Rahner

Ia adalah seorang teolog dariGereja Katolik Roma.
Ia hidup anatara tahun 1904-1984.
Bagi orang Yahudi Jerman itu, Allah adalah :”kaki langit terakhir” dari trans transendensi-diri manusia, yang sudah mendesak di dalam kita lewat pengkomunikasian diri terus menerus.
Kristus memenuhi harapan universal akan adanya Penyelamat mutlak, keunikan-Nya terdiri dari tidak dapat diubahnya serta tak dapat dibandingkannya kehadiran Allah yang nyata di dalam-Nya.
“Gereja tersembunyi” dari Tillich sama dengan “kekristenan awanama” dari Rahner.
Gereja yang kelihatan bukan saja berupa sarana penginjilan, tetapi lebih sebagai titik pusat dari apa yang Allah sedang kerjakan di seluruh penjuru dunia.
Dalam pemikiran Rahner kelihatannya sangat sulit untuk gagal diselamatkan.

            Rasionalisme dan Supra Naturalisme Modern Dengan Abad XX Termasuk Pengalaman Asia (uraian menyusul)

  1. Hubungan Teologi Sistematika Dengan Ilmu Lain
 Hubungan fungsional antar mata kuliah sangat penting diketahui oleh setiap penanggungjawab dan pemberi mata kuliah. Hal ini dibutuhkan untuk kepentingan pelaksanaan kurikulum terutama dalam penyajian dan pengkajian isi/materi kuliah. Bila dosen memahami hubungan fungsional antar mata kuliah maka:
  1. Seluruh penyajian isi setiap mata kuliah merupakan suatu pengalaman belajar yang terarah dan terpadu dengan ruang lingkup, isi, kedalaman dan keluasaan yang jelas. Dengan demikian, setiap lulusan diharapkan dapat memiliki wawasan pengetahuan dan pengalaman yang tidak terlalu bervariasi kualitasnya.
  2. Terhindarnya “overlap”, pengulangan, tumpang tindih, kurang atau berlebihan dalam hal kedalaman dan keluasaan isi serta kajian dari materi kuliah terutama di antara mata kuliah yang serumpun dan berkaitan.
  3. Dosen-dosen yang mengasuh mata kuliah yang serumpun atau berkaitan dituntut untuk ada keterpaduan serta harus selalu berkonsultasi tentang pembatasan ruang lingkup maupun pengembangan isi mata kuliah, dan sekaligus juga untuk kepentingan melakukan verivikasi terhadap bobot sks yang diberikan setiap mata kuliah dalam kaitannya dengan kuliah tatap muka, tugas terstruktur, tugas mandiri dan system penilaian keberhasilan mahasiswa.
  4. Ada kejelasan tentang hubungan antar mata kuliah yang membutuhkan “prasyarat” untuk mata kuliah sebelumnya, sehingga mahasiswa terikat untuk tidak sembarangan mengontrak mata kuliah
  5. Penyebaran mata kuliah ke dalam setiap semester dapat ditata secara runtut dan berkelanjutan, dengan alasan yang logis dan bermakna bagi mahasiswa dalam rangka pembentukan kompetensi lulusan yang utuh dan bermutu.

Berikut ini peta skematis hubungan fungsional antar mata kuliah, terutama khusus mata kuliah-mata kuliah untuk Kurikulum Standar Minimal:

Hubungan Sistematika Teologi dengan disiplin ilmu lain seperti:

    1. Biblika. Hubungan Biblika dengan teologi sistematika

Disiplin ilmu Biblika menolong Teologi Sistematik dalam menyusun ajaran-aran Alkitab secara benar dan logis sehingga dapat diterima secara akal.
Jadi, teologi Biblika menolong teologi sistematika dalam menelusuri tema tertentu (misalnya penebusan, perjanjian dst.) akan menyajikan materi yang luas dari Alkitab secara progresif.
             
    1. Historika. Hubungan teologi historika dengan teologi sistematika

Disiplin ilmu historika menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran-pengajaran Alkitab sebagaimana yang telah digumuli gereja masa lampau.
Jadi, disiplin ilmu historika memberi kontribusi dengan memperlihatkan berbagai cara penafsiran Alkitab yang pernah dilakukan gereja atau teolog di masa lampau.


    1. Praktika. Hubungan teologi historika dengan teologi sistematika
             
Menolong teologi sistematika mendaratkan isi teologi atau teologi praktika adalah mengenai apa adanya dan apa yang harus dilaksanakan.
Disiplin ilmu teologi praktika menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran Alkitab sehingga mudah diterapkan dalam kehidupan nyata.
             
  1. Oikumenika. Hubungan Oikumenika dengan teologi sistematika           

Disiplin ilmu oikumenika menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran Alkitab dengan memperhatikan aspek oikumenis.
             
Filsafat. Hubungan filsafat (berpikir kritis, berpikir mendalam tentang seluruh kenyataan) dengan teologi sistematika    

Disiplin ilmu filsafat menolong Teologi Sistematika secara kritis menyusun ajaran-ajaran Alkitab sehingga dapat dipertanggungjawabkan
             
Agama-agama. Hubungan agama-agama dengan teologi sistematika

Ilmu agama-agama menolong Teologi sistematika dalam pertanggungjawaban teologi terhadap sesame teman teologis.

Pembagian Teologi

Biblika
Sistematika
Historika
Praktika
Pengetahuan dan Pembimbing PL
Dogmatika
Sejarah Gereja Umum
PAK
Pengetahuan dan Pembimbing PB
Etika
Sejarah Gereja Asia
PWG
Bahasa Ibrani

Sejarah Gereja Indonesia
Kateketika
Bahasa Yunani

Oikumenika
Liturgika
Hermeneutika

Missiologi
Homilia
Tafsir PL

Agama Suku
Musik Gereja
Tafsir PB

Hinduisme dan Budhaisme
Pastoral
Teologi PL

Islamologi
Manajemen Gereja
Teologi PB




Makna Studi Teologi Sistematika bagi mahasiswa PGSD
             
            Makna Perubahan Kognitif (Mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi)
            Makna Perubahan Afektif (Mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu)
Makna Perubahan Psikomotorik (Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatanmu)

0 comments:

Post a Comment